By Plimun Web Design

Bendungan Lappa Angin

Bendungan Lappa Angin dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua atau roda empat sehingga tidak terlalu menguras tenaga.Dari pintu gerbang Kelurahan Watang Bacukiki, lokasi Bendungan Lappa Angin ditempuh sekitar 4-5 kilometer. Saat memasuki pintu gerbang bendungan, terlihat tulisan yang tidak begitu rapi “ SELAMAT DATANG DI LA”. LA ini tentunya bukan singkatan dari Los Angeles yang sering kita dengar, namun akronim dari Lappa Angin yang merupakan  nama dari kampung tersebut.
 
Setelah memasuki pintu gerbang , maka terlihat pemandangan yang sangat indah. Dari sana terlihat aliran Sungai Walanae dan disekitar sungai, tumbuh  pohon-pohon besar sehingga sangat terasa sejuk. Selain itu juga terdapat balai-balai yang dapat dipergunakan untuk istirahat di bawah pohon yang rindang.
 
Lokasi bendungan ini terdiri atas dua bagian yakni bagian atas dapat digunakan berenang. Namun perlu diperhatikan kedalaman sungai tersebut bisa mencapai 3- 4 meter sehingga disarankan bagi mereka yang tidak terlalu mahir berenang untuk tidak berenang di tempat ini. Walaupun demikian tetap disediakan ban yang dipakai untuk berenang.
 
Sementara di bagian bawah, aliran air dari bagian atas yang turun melewati tembok bendungan menyerupai air terjun. Bagi mereka yang ingin merasakan derasnya air seperti air terjun dapat mencoba tempat ini.
 
Setelah puas berendam dan berenang, kami disuguhi tuak manis atau air nira. Tuak manis sangat nikmat rasanya sehingga terlihat dari rombongan yang minum hingga lebih dari dua gelas.
 
Tampaknya Bendungan Lappa Angin ini dapat menjadi lokasi wisata alternatif bagi warga Parepare dan sekitarnya.Pemrintah Kota Parepare  menjadikan lokasi ini sebagai salah satu objek wisata Kota Parepare.(*)

Sumur Tujuh

Butuh suasana sejuk, teduh dalam susana lingkungan yang asri dengan mata air yang mengalir tak pernah henti, serta bisa melihat matahari terbenam dan suasana kota dari ketinggian, tak perlu buang duit pergi jauh ke daerah lain. Sebab, ternyata  potensi wisata Parepare tak kalah dengan daerah lain. Selain Hutan Jompie serta gua kelelawar, kota ini juga memiliki potensi wisata lain yang belum dikelola maksimal, yakni ‘Sumur Tujuh'.

Obyek wisata yang terletak di daerah sekitar Gedung Pemuda dan masuk wilayah Kelurahan Cappagalung itu, dapat dijangkau dari berbagai penjuru kota. Selain sumur yang terbuat secara alami dari lubang batu, di sekitar tempat ini, warga juga dapat menikmati suasana kota serta matahari terbenam dari ketinggian. Tempatnya cukup sejuk dan alami, karena di sekitar lokasi tersebut banyak pohon-pohon rindang.

Mengenai keberadaan ‘sumur tujuh' yang dipercaya dapat menyembuhkan beberapa penyakit, serta membuat enteng jodoh, konon awal kemunculannya bermula saat 15 bulan di langit bertepatan hari Jumat. Sebelum itu, menurut cerita warga, di tempat tersebut terbentang pelangi  yang dipercaya sebagai tangga bagi Bidadari turun mandi.

Sebenarnya, saat ini sumur yang bisa dipergunakan pengunjung untuk mandi atau keperluan lain, jumlahnya baru lima buah, sementara yang dua menurut pemiliknya, H. A. Amir, sementara dalam proses pembentukan. Keistimewaan sumur ini, pada musim kemarau tidak pernah kering.  Saat ini H.A. Amir selaku pemilik telah membangun tangga-tangga untuk memudahkan pengunjung mencapai lokasi tersebut.

Sumber : http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=15&dn=20080129021840


Ada rencana kata dia, ke depan tempat tersebut tidak hanya menjadi lokasi wisata alam, namun juga berfungsi sebagai wisata buah atau agrowisata. Saat  ini beberapa  buah-buahan seperti anggur serta tanaman hias seperti berbagai jenis Palem serta anggrek telah ada di lokasi ini.  Karena itu, tempat ini juga sering dijuluki ‘Kebun Palem'.

Menurut H.A. Amir, untuk membangun tempat tersebut, pihaknya telah mengelurkan biaya sebesar kurang lebih Rp. 3 miliar. Dana tersebut semua bersumber dari dana pribadi. "Pada hari-hari biasa di luar bulan Ramadhan, pengunjung utamanya dari anak-anak sekolah dapat mencapai 40 orang setiap harinya. Ada rencana kami untuk lebih mengembangkannya dengan membangun kolam renang," katanya saat ditemui beberapa hari lalu.

Menurut H.A. Amir, dalam rangka pengembangan obyek wisata tersebut, pihaknya terkendala pada pendanaan. Untuk itu, ia berharap pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya dapat memprogramkannya sebagai tempat wisata yang perlu dikembangkan. Pola pengembangannya dapat mencontoh model tempat wisata Selekta di Malang, Jawa Timur, Batu Raden di Purwokerto, Jawa Tengah, serta Cimelati di Sukabumi, Jawa Barat. Ini tempat wisata tiga dimensi. Pengunjung selain menikmati sumur mistik, kolam renang dan wisata agro, juga dapat menyaksikan suasana pemandangan kota dari ketinggian.

Objek Wisata Gua Tompangnge

Parepare merupakan suatu kota kecil namun sangat indah dan cantik. Kekhasan kota ini dari segi panorama pemandangannya yang sangat menakjubkan. Kota yang dijuluki Bandar Madani ini, juga menawarkan beberapa objek wisata yang banyak dikunjungi orang.

Salah satu objek wisata alam yang menarik banyak orang untuk mengunjunginya adalah Gua Tompangnge atau biasa juga disebut gua kelelawar,mengingat gua ini banyak dihuni oleh ribuan kelelawar.

Ada dua jalan menuju Gua Tompangnge ini. Pertama jalan melaui Pesantren Al Badar,jalan ini cukup praktis karena dapat ditempuh melalui kendaraan hingga di bibir sungai. Sesampai di bibir sungai, dilanjutkan dengan jalan kaki sekitar satu hingga dua kilometer untuk sampai ke Gua Tompangnge ini Namun jangan khawatir kelelahan, di Pesantren Al Badar terdapat usaha sapi perah. Di sini orang dapat menikmati susu sapi murni yang diperas sendiri dari sapinya dan harganya pun terjangkau .

Sementara jalur kedua yang melalui Bilalangnge tembus hingga Lappa Angin, cukup jauh ditempuh dibandingkan dengan jalur pertama. Untuk melalui jalur ini, perjalanan harus ditempuh dengan jalan kaki sekitar 10 kilometer. Namun demikian kelebihan melalui jalur kedua ini, hamparan pemandangan indah terlebih melalui pinggiran sungai akan menyertai perjalanan.

Sesampai di mulut gua, sudah dapat disaksikan ribuan kelelawar yang memang hidup di gua tersebut. Jalan masuknya pun sangat berlumpur ,kotor dan bau sekali.

Di sekitar Gua Tompangnge ini, juga terdapat air terjun yang sangat indah .Letaknya pun tidak terlalu jauh dari gua sekitar 500 meter saja. Pada air terjun tersebut, airnya mengalir dari untaian akar-akaran yang menggantung dari puncak bukit yang ada di sebelah Gua Tompangnge.

Objek wisata Goa Kelelawar diperuntukkan sebagai Obyek Wisata Alam yang dicanangkan luasnya ± 100 hektar, fungsinya lebih diarahkan pada fungsi konservasi hutan. Yang telah dilakukan adalah penyusunan Master Plan sebagai acuan dalam hal pengembangan lebih lanjut.

Gua ini berpotensi untuk dikembangkan dan tentu saja untuk itu setidaknya dilakukan survey dan penelitian terlebih dahulu. Dalam eksplorasi gua setidaknya perlu pemetaan gua untuk mengukur mulut gua, panjang gua, potensi air, dan potensi lainnya. termasuk potensi tinggalan budayanya.  Hal ini dapat terealisasi apabila dilakukan penelitian terlebih dahulu dengan melibatkan pihak yang berkompeten baik itu arkeolog maupun speolog.

Selain itu, kandungan fosfat yang tinggi dari guano kelelawar yang dihasilkan, dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai pupuk alami. Dengan jumlah kelelawar yang sangat banyak, Gua Tompangeng dapat menghasilkan guano dengan jumlah yang cukup banyak. Hal ini merupakan potensi yang luar biasa, namun yang perlu di perhatikan adalah pengelolaan yang tepat sehingga tidak mengganggu keberadaan gua dan juga kelestarian gua

Gua Tompangnge ini memiliki cerita tersendiri di masyarakat sekitarnya. Dalam gua tesebut terdapat batu lappa (batu datar) yang dipergunakan untuk tempat ibadah.Di gua ini,lanjut dia, memang ada ”penjaganya”.(Muh.Yusni)

Kebun Raya Jompie

Salah Satu potensi pariwisata Kota Parepare yang belum terkelola dengan baik adalah kebun raya Jompie. Kelestarian kebun raya yang tahun 2010 lalu mendapat penghargaan sebagai hutan kota terbaik keenam di Indonesia ini, tetap terjaga dan menjadi paru-paru kota. Kebun raya Jompie yang dibangun sejak tahun 1920 menyimpan keanekaragaman hayati serta menjadi obyek wisata dan pusat penelitian tumbuhan tropis, terutama tanaman endemik Sulawesi.

Kawasan yang dulunya bernama Celebes Tour ini memiliki luas 13,5 hektar dan bagian dari kompleks Hutan Alitta. Lokasinya terletak di Kelurahan Bumi Harapan, Kecamatan Soreang dengan jarak dari pusat Kota Parepare sekitar 3,5 kilometer. Letak kebun raya Jompie sangat strategis karena muda dijangkau, baik dengan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Menariknya lagi, kawasan kebun raya Jompie sangat dekat dengan akses jalan menuju Kabupaten Pinrang dan Sidrap.

Dalam kawasan ini terdapat beberapa fasilitas fisik, antara lain kolam renang, 14 unit shelter (tempat istirahat), arena perkemahan (camping ground), gedung pertemuan, saluran drainase, dan jalan setapak yang menjangkau setiap sudut kawasan.

Keaneragaman tumbuhan di kawasan ini menurut analisis dari Tim Analisis Vegetasi Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor serta Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), terdiri dari 90 jenis yang berasal dari 81 marga tumbuhan. Sebanyak 7 jenis diantaranya telah teridentifikasi secara lengkap. Sepuluh jenis baru diketahui marganya, dan tiga jenis baru teridentifikasi sampai pada tingkat suku. Beberapa diantaranya diketahui sebagai tumbuhan langka.

Kendati status sebagai kebun raya baru disandang tahun ini, namun kebun raya Jompie sudah dinobatkan sebagai pusat koleksi dan konservasi kawasan Wallacea dengan menonjolkan keanekaragaman tumbuhan obat, adat dan ethnobotani. Tak hanya itu, kebun raya ini juga diproyeksikan sebagai tempat pendidikan, penelitian dan wisata.

Konsep penataan kebun raya Jompie didasarkan pada keselarasan fungsi-fungsi kebun raya yang akan dikembangkan. Secara umum, dasar perencanaan terdiri dari zona fungsional yang terpadu, indah, aman dan nyaman untuk kegiatan konservasi, penelitian, pendidikan dan rekreasi. Pengaturan koleksi tanaman dirancang dalam bentuk taman-taman tematik berdasarkan nilai dan potensi kegunaannya.

Karena lahan kebun raya Jompie cenderung terbatas, maka untuk perencanaan fasilitas pendukung akan dilakukan seminimal mungkin. Begitu juga sistem sirkulasi pengunjung dirancang khusus sehingga dapat menjangkau seluruh lokasi.  Dia juga mengatakan, pengembangannya akan dirancang sesuai dengan kemampuan finansial yang ada.

Sumur Jodoh

Sumur jodoh yang terletak di Cempae, Kecamatan Soreang sebagai salah satu potensi wisata selalu menarik untuk diungkap.
Pada tahun 1977, menurut salah seorang budayawan Parepare, Andi Syamsu Alam. B.Sc, saat potensi sumur jodoh dipentaskan dalam pameran pembangunan di Kota Makassar, terjadi sebuah ‘keanehan’ yang menarik untuk diceritakan.

Usai pameran salah seorang wartawan dari Jakarta merasa penasaran dan berkunjung ke Parepare ingin mengenal dan melihat lebih dekat lokasi dan sumur jodoh di Cempae Kota Parepare. Setelah di sana wartawan tersebut menimba air sumur tersebut dan berkumur-kumur. Anehnya, air sumur di atas laut itu tidak asin, ternyata berasa tawar. Lalu ia meminumnya, alhasil setelah dia balik ke Jakarta empat bulan kemudian dia mengirim undangan perkimpoian ke Parepare.

 

Sejarahnya:
Diambil dari sejarah Sultan Hasanuddin (Raja Gowa) dan lontara bugis Makassar ketika perluasan kerajaan Bone mengarungi lautan Pasifik serta diperkuat ulasan wilayah Parepare dalam lintasan sejarah oleh Edward L. Poelinggoman, Tokoh Sejarah Nasional pada museum sejarah Propinsi Sulawesi Selatan. Kebijakan VOC 1668, mendorong Raja Bone bergiat memperluas pengaruh kekuasaannya di Sulawesi Selatan. Dalam perjalanan dari Bone menuju Mallusetasi (di batas Parepare-Barru) melintasi Sidenreng Rappang (Letta) dan sempat menguasai daerah Sumpang Pala (Pabbaresseng) kabupaten Sidrap.


Lapatau Raja Bone, pelanjut perjuangan A. Tenri Tetta (Arung Palakka), melanjutkan perjalanannya ke daerah Mallusettasi. Dalam perjalanannya sempat menjumpai sebuah batu menyerupai seekor kuda sedang bertelungkup. Anehnya batu tersebut dapat bergerak dan berbunyi suara kuda dan berpindah tempat, membuat Lapatau (Raja Bone) sangat heran dan kaget sehingga raja Bone terpaksa tinggal di daerah itu dan memberi nama daerah itu Batu Kiki karena batu tesebut berbunyi kiki bagaikan suara kuda, kemudian diberi nama Bacukiki dan Lapatau membentuk suatu kerajaan.


Beberapa lama kemudian Lapatau tinggal di kerjaan Bacukiki, sempat mengawini seorang warga masyarakat disana. Tidak lama kemudian istrinya (permaisuri) melahirkan anak perempuan dan diberi nama Andi Tenri Uleng. Usia 16 tahun, A. Tenri Uleng berwajah sangat cantik, membuat panglima kerajaan/tobarani sangat terpesona dan mencintai Andi tenri Uleng. Begitu pula permaisuri juga sangat senang sama panglima karena wajah tampan dan sopan santun. Karena takdir Tuhan, musibah menimpa Andi Tenri Uleng. Ia diserang penyakit penyakit kusta, mengakibatkan masyarakat Bacukiki merasa khawatir dan gelisah terhadap penyakit A. Tenri Uleng yang dinilai dapat menyebar ke masyarakat.
Usaha para penghulu, adat tujuh dan masyarakat untuk mengobatinya tetapi tak kunjung sembuh malah makin parah. Maka keputusan adat tujuh menyingkirkan A. Tenri Uleng dari pusat Kerajaan Bacukiki atas usul raja dan permaisuri. Dan disayembarakan bahwa barang siapa yang dapat menyembuhkan A. Tenri Uleng, apabila laki-laki akan dikimpoikan, bila perempuan akan dijadikan saudara.


Dalam sayembara tersebut muncul beberapa peserta sayembara antara lain Sanrebo (Ahmad Patujuh) dari Cempae Kelurahan Watang Soreang dan tak ketinggalan Panglima Kerajaan/Tobarani meminta izin untuk ke Gunung Bawakaraeng mencari obat buat Andi Tenri Uleng. Ahmad Patujuh justru mengusulkan agar Andi Tenri Uleng dapat dibawa ke Cempae untuk diobati selama 40 hari 40 malam. Atas keputusan adat tujuh sebagai salah satu lembaga dalam struktur pemerintahan Kerjaan Bacukiki dan mendapat restu Raja dan permaisuri, A. Tenri Uleng dibawa ke Cempae Kelurahan Watang Soreang oleh Ahmad Patujuh dan dikawal pasukan kerajaan menuju ke Soreang.
Andi Tenri Uleng selama dalam pengasingan, pekerjaannya cuma menjaga padi yang sedang dijemur di depan rumah setiap pagi. Setiap hari Jumat jam 09.00, muncul seekor Kerbau Belang. Setiap kemunculannya, selalu menjilati sekujur tubuh A. Tenri Uleng. Sehabis dijilati, kerbau tersebut langsung menghilang, tiba-tiba muncul Ahmad Patujuh dan menanyakan kepada Andi Tenri Uleng atas apa yang barusan terjadi pada dirinya sehingga badannya nampak kemerah-merahan. Dijawab bahwa baru saja ada seekor kerbau belang yang menjilati sekujur tubuhnya, yang pada hakekatnya kerbau belang tersebut jelmaan Ahmad Patujuh sebagai kerbau belang untuk mengobati Andi Tenri Uleng.
Setiap kali Andi Tenri Uleng habis dijilati kerbau belang, Ahmad Patujuh membawanya ke laut untuk dimandikan dan diminumkan airnya. Anehnya air laut tersebut tidak asin, dan selama 40 hari 40 malam dilakukan hal seperti itu berangsur-angsur penyakitnya sembuh dan wajahnya makin bersinar, cantik dan bercahaya bagaikan sinar matahari.
Hingga pada suatu hari warga kerajaan Bacukiki dikagetkan dan gelisah melihat ada dua matahari yang terbit satu di timur satunya di barat hingga menimbulkan tanggapan akan terjadi kiamat karena tak mungkin ada dua matahari yang terbit. Maka raja menyuruh seorang pengawal kerajaan memeriksa terbitnya matahari disebelah barat. Setibanya di Cempae , ternyata bukan matahari yang terbit.


Tetapi wajah A. Tenri Uleng bersinar memancarkan cahaya bagaikan sinar matahari yang muncul dari dalam rumah tempat pengasingannya. Pada sosok wanita cantik itu, pengawal bertanya dimana sekarang A. Tenri Uleng, dijawab, saya yang bernama A. Tenri Uleng, anak raja yang diasingkan di Cempae Soreang. Ketika itu pengawal langsung bergegas meninggalkan tempat pengasingan dan melapor pada baginda raja, bahwa sinar matahari yang terbit itu adalah A. Tenri Uleng yang sudah sembuh, dan dialah yang bersinar bagai sinar matahari, wajahnya semakin cantik dan mempesona.


Lapatau, Raja Bacukiki didampingi permaisurinya memanggil adat tujuh dan pabbicara (Humas) kerajaan. Disepakati menjemput A. Tenri Uleng untuk dibawa kembali ke kerajaan Bacukiki. Sayangnya, dalam penjemputan A. Tenri Uleng tidak bersedia jika Ahmad Patujuh tak diikut sertakan sebagai wujud janji raja bacukiki dan permaisurinya untuk mengawinkan pada siapa pun orang yang mampu dan telah menyembuhkan penyakitnya.
Raja Bacukiki, Lapatau, merestui permintaan tersebut. Maka dilakukanlah penjemputan secara adat kerajaan. Di kerajaan disambut rasa gembira dan pesta kerajaan. Sementara acara penjemputan dan pesta adat, tiba-tiba muncul Panglima Kerajaan Bacukiki yang baru saja tiba dari Gunung Bawakaraeng membawa obat untuk A. Tenri Uleng. Panglima kaget melihat wajah A. Tenri Uleng sudah sembuh dan semakin cantik. Perasaannya kecewa karena obat yang dibawa dari gunung tersebut langsung dibuang, dilemparkan disusul tangisan meledak karena merasa usahanya gagal.


Padahal permaisuri tadinya senang jika panglima yang mengawini anaknya, sehingga terjadilah perdebatan antara raja dan permaisuri, Ahmad Patujuh dan Panglima kerajaan tersebut. Hasil rapat dan musyaearah menyepakati jalan tengah yang dianggap lebih adil berupaya menyelesaikan lewat pertarungan kerins dalam sarung. Tetapi A. Tenri uleng tidak menyetujui karena dinilai tak manusiawi, kemudian ia mendatangi Ahmad Patuju agar menolak ajakan tersebut, tetapi Ahmad Patujuh pasrah atas keputusan adat untuk diadu dalam satu sarung.


Pertarungan keris dalam satu satung segera dimulai. Sementara berlangsung pertarungan tiba-tiba pengawal panglima kerajaan datang memisahkan kedua belah pihak dengan tombak terhunus. Tak disengaja tombaknya menusuk mengenai perut panglima dan langsung membuka sarung dan membungkus mayat panglima, lalu menuju ke hadapan raja serta bersujud di depan raja.


Raja Bacukiki, Lapatau, menginstruksikan seluruh pengawal kerajaan dan adat tujuh segera mempersiapkan upacara pemakaman Panglima Perang Kerajaan dan mengundang seluruh masyarakatnya. Setelah selesai acara pemakaman, raja dan permaisurinya memanggil Ahmad Patujuh bersama A. Tenri Uleng dan menanyakan kepada Ahmad Patujuh, “Hai Ahmad, aga akkuragammu naweddingngi Mupasau lasanna anrimmu Tenri Uleng?”. Ahmad Patujuh kemudian menjawab, ‘Degaga akkuragakku Puang, engkami Seddi Tedong Buleng lellungngi anrikku Tenri Uleng, nalepe’i Siddi watakkale, wettunna Esso Juma ri ele’e, narekko purasi puang rilepe tedong bulengnge, utiwisi ucemmei ritasi’e sibawa kupenungengngi uae tasi’e, nakkomiro Puang akkuragakku nasau lasanna anrikku Andi Tenri Uleng”. Andi Tenri Uleng kemudian berkata “Tongeng-tongengngi ro nasengnge Ahmad Patujuh”.


Setelah wawancara Raja Bacukiki dan Hamad Patujuh, maka dijadwalkan waktu pelaksanaan pesta perkimpoian keduanya. Raja dan permaisuri menetapkan bahwa lokasi tempat pengobatan penyakit Andi Tenri Uleng diberi nama “Bujung Pattimpa Parakkuseng” artinya bujung adalah sumur, pattimpa adalah pembuka dan parakkuseng adalah jodoh. Karena berkat air sumur yang ada di laut yang dinikmati Andi Tenri Uleng, Raja Bacukiki, Lapatau, mengalokasikan di Soreang tempat penampungan pengobatan masyarakat yang terkena penyakit kulit dan diberi nama Rumah Sakit Kusta Lauleng.

 

 

 

 

 

 

Kami memiliki 274 tamu dan tak ada anggota yang online


Hak Cipta © 2012 pareparekota.go.id. Hak Dilindungi Undang-Undang.